Kupat Tahu Magelang 21

Kamis, 29 Maret 2012

Kupat Tahu Magelang 21 yang jadi langganan para wisatawan asing ini mencoba menghadirkan sebuah menu makanan daerah yang terkonsep dengan baik sehingga selain rasanya enak, juga cocok dikonsumsi oleh semua kalangan (dewasa juga anak-anak). Proses penyajiannya yang beda itulah yang membuat penggagas Kupat Tahu Magelang 21 ini mengangkat tagline "Manisnya Pas, Kaya Rasanya" pada produk yang ia tawarkan. Kupat Tahu umumnya sayurannya digoreng, kalau disini sayuran dikukus untuk menjaga kandungan gizi pada sayuran, sehingga minim penggunaan minyak.

Kuah bumbunya pun beda, manisnya pas dibanding kebanyakan Kupat Tahu yang rasanya cenderung manis sekali. Racikan yang digunakan sekarang ini merupakan modifikasi dari bumbu Kupat Tahu yang biasa dikenal oleh masyarakat Jogja, melalui proses trial and error hingga menemukan komposisi yang pas sekarang ini. Tujuan awalnya sederhana saja, si pemilik ingin mengajak masyarakat untuk kembali mencintai makanan daerah mereka sendiri, siapa menduga pada prakteknya justru tidak sedikit kaum ekspatriat mampir untuk menikmati seporsi Kupat Tahu Magelang 21 karena diakui rasanya sesuai dengan lidah dan selera mereka. Satu porsi berisi kupat, tahu, bakwan yang dilengkapi sayuran seperti, kol, tauge, daun bawang, daun seledri kemudian ditaburi bawang goreng. Sambal disajikan terpisah.
 
Setiap harinya warung makan dengan paduan warna kuning dan hijau ini beroperasi mulai pukul 09.00-18.00 WIB. Menu yang ditawarkan tentunya Kupat Tahu Magelang 21 yang dibandrol Rp.8000,00 per porsi, cukup membayar Rp.2000,00 saja bila anda ingin menambahkan telur pada Kupat Tahu pesanan anda. Untuk minuman, anda bisa memesan teh,kopi atau jeruk yang dapat disajikan panas maupun dingin dengan harga mulai dari Rp.2000,00.

Museum Dirgantara Mandala

Selasa, 20 Maret 2012

Mungkin banyak dari kita mengetahui nama Marsekal Muda Anumerta Agustinus Adisutjipto, Marsekal Muda Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Marsekal Muda Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma, dan Marsekal Muda Anumerta Iswahjudi hanya sekedar nama bandara udara di berbagai kota yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengetahui beliau berempat secara lebih mendalam kita bisa berkunjung di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala atau Museum Dirgantara. Di museum ini, kita bisa melakukan perjalanan melewati relung masa lalu dengan melihat koleksi peninggalan sejarah perjuangan TNI AU. Dengan jumlah koleksi hampir mendekati angka 10000 kita bisa merasakan nafas perjuangan para pendiri TNI AU melalui dokumentasi berupa foto, prasasti, patung founding fathers TNI AU, model pakaian dinas serta tidak ketinggalan pula wahana diorama.  Museum ini juga memiliki koleksi peralatan perjuangan mulai dari beragam jenis Alutsita (Alat Utama Sistem Senjata), hingga teknologi informasi (radio pemancar dan radar).  Untuk memudahkan pengunjung dalam  melihat koleksi Museum Dirgantara ini, pihak pengelola membagi tujuh ruangan yang berbeda, antara lain Ruang Utama, Ruang Kronologi I dan II, Ruang Alutsista, Ruang Paskhas, Ruang Diorama dan Ruang Minat Dirgantara.

Museum Perjuangan TNI AU adalah cikal bakal dari Museum Dirgantara Mandala yang pertama kalinya diresmikan oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Roesmin Noerjadin, pada tanggal 4 April 1969 di Markas Komando Udara V Tanah Abang Bukit Jakarta.  Perpindahan museum dari Jakarta menuju Yogyakarta didasarkan pada faktor sejarah perjuangan kota Yogyakarta pada periode 1945-1949 sebagai pusat latihan bagi Taruna Akademi Udara. Museum Dirgantara Mandala adalah gabungan dari Museum Perjuangan TNI AU dengan Musem Ksatrian yang sudah ada di Yogyakarta. Peresmian kedua museum ini dilakukan oleh Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi menjadi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala pada tanggal 29 Juli 1978 yang bertepatan dengan peringatan Hari Bhakti TNI AU. Perpindahan museum dari Jakarta ke Yogyakarta masih menyisakan permasalahan tempat untuk menyimpan koleksi Alutsista yang ada, maka Museum Dirgantara Mandala berpindah untuk ketiga kalinya yaitu di gudang bekas pabrik gula di Wonocatur di kawasan Landasan Udara Adisutjipto. Gedung museum baru itu kemudian diresmikan pada tanggal 29 Juli 1984 oleh oleh Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Sukardi.

Memasuki kawasan Museum Dirgantara, para pengunjung akan mendapati sambutan beberapa pesawat tempur dan cargo yang dipajang di halaman museum. Pesawat tempur tipe A4-E Skyhawk menjadi salah satu dari tim penyambutan para pengunjung yang dipajang di muka gedung museum. Setelah memasuki ruang utama, para pengunjung akan disambut oleh empat patung tokoh perintis TNI-AU, yaitu Marsekal Muda Anumerta Agustinus Adisutjipto, Marsekal Muda Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Marsekal Muda Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma, dan Marsekal Muda Anumerta Iswahjudi.

Sebagai menu pembuka kunjungan, para pengunjung pertama kalinya memasuki Ruang Kronologi I. Di ruangan ini pengungjung akan mendapatkan informasi sejarah awal pembentukan angkatan udara di Indonesia. Berbagai peristiwa terdokumentasi di ruang ini, Penerbangan pertama pesawat merah putih pada 27 Oktober 1945 sebagai serangan balasan terhadap Belanda, berdirinya Sekolah Penerbangan Pertama di Maguwo pada 07 November 1945 yang dipimpin oleh Adisutjipto, berdirinya TRI Angkatan Udara pada 9 April 1946. Masih dalam satu ruangan yang sama juga dipamerkan berbagai peralatan radio dan foto penumpasan berbagai pemberontakan di tanah air, seperti pemberontakan DI/TII, Penumpasan G 30 S/PKI, serta Operasi Seroja. Pada ruangan selanjutnya, dipajang berbagai jenis pakaian dinas yang biasa digunakan oleh para personel TNI-AU, meliputi pakaian tempur, pakaian dinas sehari-hari, hingga pakaian untuk tugas penerbangan.

Memasuki ruangan dengan rancang bangun hangar pesawat, para pengunjung disuguhkan dengan koleksi  Alutsista atau Alat Utama Sistem Senjata yang pernah digunakan oleh TNI-AU. Dari pesawat tempur pesawat tempur dan pesawat angkut, model mesin-mesin pesawat, radar pemantau wilayah udara, serta senjata jarak jauh seperti rudal. Berbagai macam koleksi pesawat yang diproduksi dari berbagai negara mulai dari pesawat buatan Amerika, Eropa hingga buatan dalam negeri.  Dari berbagai koleksi yang dipamerkan terdapat salah satu jenis pesawat tempur seri P-51 Mustang buatan Amerika Serikat. Pesawat ini memiliki sejarah panjang di dunia kedirgantaraan di Indonesia. Digunakan dalam berbagai operasi menjaga integrasi negara dalam penumpasan pemberontakan DI/TII, Permesta, Operasi Trikora dan Dwikora serta penumpasan G 30 S/PKI. Pesawat lainnya yang tak kalah menarik adalah pesawat buatan Inggris, namanya Vampire tipe DH-115. Pesawat ini merupakan pesawat jet pertama yang diterbangkan di Indonesia pada tahun 1956 oleh Letnan Udara I Leo Wattimena.

Salah satu koleksi yang sangat penting dalam sejarah cikal bakal TNI AU adalah replika pesawat Dakota C-47 dengan nomor seri VT-CLA yang ditembak jatuh oleh Belanda di daerah Ngoto, Bangunharjo, Sewon Bantul pada tanggal 29 Juli 1947. Jatuhnya pesawat tersebut menewaskan para pionir Angkatan Udara, antara lain  Komodor Muda Udara Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, serta Opsir Muda Udara I Adisumarmo Wirjokoesoemo.
Museum ini buka tiap hari Minggu hingga Kamis pukul 08.00?13.00 WIB dan hari Jumat sampai Sabtu pukul 08.00-12.00 WIB. Sedangkan pada hari Senin dan libur nasional tutup.

Museum Perjuangan Yogyakarta

Banyak jalan menuju Roma, itulah pepatah kuno yang sampai sekarang menjadi motivasi bagi semua orang yang ingin meraih kesuksesan dengan cara yang kreatif demi satu tujuan. Di awal abad masehi kota Roma adalah ibukota dari Bangsa Romawi yang memiliki sejarah besar dan menjadi salah satu titik adikuasa selain Bangsa Persia. Banyak sejarah sebuah bangsa atau kaum sesudahnya menggunakan panji-panji kebesaran Romawi untuk mengangkat kewibawaan dihadapan rakyat dan musuh-musuhnya.

Museum Perjuangan Yogyakarta sebagai museum yang menyimpan serta menceritakan sejarah besar kota Yogyakarta tidak ketinggalan pula mengikuti panji-panji kebesaran Bangsa Romawi.  Bangunan museum ini cukup unik, karena berbentuk Ronde Tampel yang merupakan arsitektur gaya Romawi Kuno.

Museum Perjuangan Yogyakarta mengkoleksi benda-benda sejarah perjuangan dengan berbagai bentuk mulai dari patung, relief, foto serta peralatan sehari-hari pada jaman tersebut. Koleksi dari museum ini diperkirakan lebih dari 200 buah yang diambil dari zaman perjuangan periode tahun 1908-1949. Keunikan dari museum ini, pada dinding luarnya tertempel banyak relief yang menjadi ciri khas dari museum ini.  Berbagai macam peristiwa sejarah perjuangan bangsa, mulai dari berdirinya Budi Utomo, Muhammadiyah, Taman Siswa dan Universitas Gadjah Mada ada disini semua. Tidak ketinggalan pula patung dari para pahlawan nasional ikut menghiasi bagian luar dari bangunan museum ini. 
Museum ini termasuk bangunan baru yang diresmikan paska perang kemerdekaan yaitu pada tanggal 29 Juni 1961 dengan peletakan batu pertama oleh Sri Paku Alam VIII. Dalam perjalanannya museum ini sempat mengalami masa surut cukup lama, dua tahun setelah peletakan batu pertama sampai tahun 1969, museum ini mengalami kesulitan dalam hal operasional sehingga akhirnya ditutup untuk umum. Pada kenyataannya museum ini tetap mengalami kesulitan operasional berlanjut sampai tahun 1974 sebelum kembali beroperasional tahun 1980. Museum Perjuangan Yogyakarta ini mempunyai fasilitas pendukung bagi pengunjung museum diantaranya perpustakaan, auditorium, tempat parkir, dan toilet.

Pada tahun 2008, Museum Perjuangan Yogyakarta ini melakukan perubahan dengan menjadikan ruang bawah tanah menjadi Museum Sandi Indonesia. Yang menjadi latar belakang dari pendirian Museum Sandi Indonesia  adalah menampilkan dan memelihara koleksi benda-benda sandi yang bernilai sejarah serta menambah pengetahuan wawasan dan pengunjung mengenai sejarah persandian di Indonesia dan mancanegara.  Sebagai wahana menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dan perjuangan melalui media persandian, dan media pembelajaran mengenai ilmu persandian.

FASILITAS MUSEUM SANDI
Museum Sandi menyediakan berbagai fasilitas, antara lain :

Pusat Informasi
Di ruang ini pengunjung mendapat informasi (gambaran) awal tentang apa yang dapat dilihat dan lakukan di museum. Informasi yang tersedia antara lain alur cerita persandian, tayangan multimedia tentang museum, dan denah museum.

Ruang Pameran
Merupakan ruangan yang disusun berurutan mengikuti pola alur pengisahan yang telah ditentukan. Ruang pamer ini merupakan bagian utama dan penting dari Museum Sandi. Ruang pamer ini dibagi menjadi beberapa counter yang dilengkapi fasilitas pameran yang bentuk, jenis dan materi-nya disesuaikan dengan tema cerita yang disajikan. Ruang pamer ini menyajikan tampilan yang relatif permanen.

Ruang/Counter Multimedia
Ruang/counter untuk menayangkan film atau animasi yang berkaitan dengan kegiatan sandi atau ilmu sandi. Pada ruang ini juga disediakan suatu sarana permainan yaitu cryptogame bagi pengunjung.

Ruang Penyimpanan dan Perawatan Koleksi
Ruang untuk menyimpan koleksi museum yang tidak di pamerkan dan sekaligus juga sebagai tempat untuk melakukan perawatan koleksi. Ruang ini didesain untuk kemudahan penyimpanan maupun pencarian koleksi dengan fasilitas rak-rak penyimpanan yang sistematis dan hemat ruang.

Ruang Pengelola/Administrasi Museum
Ruang pengelola / administrasi dibutuhkan sebagai sarana penunjang penyelenggaraan museum.

Akses menuju Museum Perjuangan Yogyakarta ini sangat mudah. Letaknya berada sangat dekat dengan pusat kota membuat lokasi mudah untuk ditemukan dan dapat diakses dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Jam buka museum yaitu untuk Selasa sampai dengan Kamis pukul 08.30-14.00, Jum'at pukul 08.30-11.30, sedangkan hari  Sabtu dan Minggu buka pukul 08.30-13.00 WIB.

Kampoeng Kauman

Sejarah terjadinya kampung Kauman menyatu dengan sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta karena kampung tersebut merupakan bagian dari birokrasi kerajaan. Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 telah memecah Kerajaan Mataram menjadi dua bagian, Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I mendirikan Kasultanan Yogyakarta, sedangkan Paku Buwono III mendirikan Kasunanan Surakarta.

Kraton Kasultanan Yogyakarta selesai dibangun pada tanggal 7 Oktober 1756  oleh Sultan Hamengku Buwono I yang kemudian dilanjutkan pembangunan Masjid Agung yang selesai pada tanggal 29 Mei 1773.Untuk urusan keagamaan, dibentuklah lembaga kepenguluan, pengulu dan seluruh aparatnya disebut abdi dalem pamethaan.  Kantong kepenguluan Kasultanan Yogyakarta disebut dengan Kawedanan Pengulon yang tugasnya meliputi urusan administrasi bidang keagamaan (pernikahan, talak, rujuk, juru kunci makam Dalem Pamethaan, naib, hukum dalem, peradilan agama dan kemasjidan).


Sultan mengangkat sebanyak 15 pengulu untuk mengurusi Masjid Agung, oleh Sultan beberapa abdi dalem yang bertugas mengurusi Masjid Agung diberi tempat di sekitar masjid. Kemudian mereka membentuk masyarakat yang disebut Kauman. Kaum adalah penyebutan untuk orang yang bertugas mengurusi bidang keagamaan. Lokasi tinggal masyarakat Kauman itu hingga kini disebut Kampung Kauman


Kampung  Para Pelopor

Banyak tokoh nasional yang juga lahir di Kampung Kauman. Peletak dasar sila pertama Pancasila, Ki Bagus Hadikusumo. Beliau merubah Piagam Jakarta pada Sila Pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, selain beliau mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah  (1995-1998) M.  Amien Rais juga “terlahir” sebagai santri di kampung Kauman sebagai garda depan reformasi di Indonesia. Di sudut barat Kampung Kauman terdapat sebuah langgar peninggalan KH Ahmad Dahlan, dari langgar sinilah KH Ahmad Dahlan membidani berdirinya organisasi pendidikan kesehatan dan kemasyarakatan Muhammadiyah pada tanggal 12 November 1912.

Di kampung Kauman di belakang Masjid Agung Yogyakarta terdapat taman monumen perjuangan para pemuda kauman yang ikut berperang pada masa pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Monumen tersebut di beri nama Monumen Syuhadaa Fii Sabilillaah Kauman Darussalaam yang diresmikan oleh Letkol Inf Sukedi Komandan Kodim 0734 Yogyakarta pada tanggal 20 Agustus 1995 / 23 Rabiul Awal 1416 H. Monumen ini didirikan untuk mengingat 23 nama pemuda kauman yang bertempur melawan penjajah Jepang dan pasukan sekutu yang mengobrak-abrik Republik Indonesia.


Kampung  Kauman di Masa Sekarang

Struktur sosial kampung Kauman sekarang telah berubah lebih modern mengikuti perkembangan jaman namun sisa-sisa aroma keislaman yang kuat masih terasa tatkala kita menyusuri lorong-lorong Kauman.  Situasi yang tidak berbeda dengan dulu saat awal terbentuknya kampung Kauman.  Ditinjau dari pendekatan antropologis, masyarakat Kauman adalah masyarakat yang endogamy, artinya penduduknya mengadakan perkawinan dengan orang dari kampung sendiri dan tidak mencari jodoh dari luar kampung. Perkawinan antara keluarga para ketib (orang yang bertugas sebagai penceramah shalat Jum’at), modin (muadzin juru azan shalat), merbot  (marbut pengurus masjid yang  yang tugasnya menjadi juru bersih masjid dan mengelola fisik masjid), telah terjadi di Kauman. Perubahan sosial terjadi dimulai pada era 1960an dimana banyaknya pelajar yang tinggal sementara di Kauman menyebabkan akulturasi budaya karena mereka tidak hanya berasal dari Yogyakarta melainkan dari luar Pulau Jawa. Dampaknya orang asli kauman menikah dengan orang di luar kauman dan regenerasi berjalan lambat, putra-putri penduduk  Kauman banyak yang melakukan studi pengetahuan umum non keagamaan. Sementara di bidang kebudayaan, kurang lebih 60 tahun masyarakat Kauman mengalami perubahan seni budaya dan adat istiadat yang mencolok.  Akibat “kenakalan” KH Ahmad Dahlan kesenian shalawatan, samrohan dan dziba’an. Kesenian itu merupakan ciri khas desa-desa pesantren untuk memuja Nabi Muhammad SAW digantikan dengan instrumen musik barat, seperti accordion, organ dan piano. (Sumber: Majalah Kabare Jogja Edisi VI. 15 Nov – 15 Des 2002).

Getar Masa Lalu di Kampung Kauman

Menyusuri setiap lorong di kampung Kauman memberikan sebuah pengalaman tentang masa lalu. Bangunan-bangunan tua awal 1900 masih tersisa dan berfungsi untuk kegiatan sehari-hari.  Mushola Aisyiyah khusus perempuan ini didirikan tahun 1922 oleh KH Ahmad Dahlan. Tata cara mushola ini melakukan sholat berjamaah mengikuti waktu adzan Masjid Agung Yogyakarta. Ketika sholat dimulai salah satu jamaah perempuan tersebut menjadi imam. Dari keberadaan Mushola ini jelas menggambarkan visi KH Ahmad Dahlan tentang kesamaan gender tanpa harus melupakan kodrat seorang perempuan dalam kehidupan bersama. Aisyiyah sebagai organisasi yang mewadahi aspirasi kaum perempuan telah teruji dengan berbagai tantangan perkembangan jaman.

Museum Kirti Griya

Taman Siswa hadir sebagai salah satu organisasi pendidikan yang tetap berdiri sampai sekarang. Asam garam perjuangan telah dilalui dari berbagai era, dimulai dari jaman pra kemerdekaan sampai sekarang ini. Jejak-jejak perjuangan Taman Siswa tidak bisa dilepaskan dari sosok RM Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantoro) sebagai founding father pergerakan organisasi tersebut. Sebagai salah satu saksi perjuangan beliau, Museum Dewantoro Kirti Griya merupakan museum yang berusaha mengabadikan kehidupan dan perjuangan RM Soewardi Soerjaningrat. Museum ini menceritakan kembali riwayat kehidupan Beliau dari usia muda hingga wafat dengan segala pernak-pernik perjuangan beliau lewat dunia pendidikan.

Dibesarkan dalam lingkungan Kraton Kadipaten Puro Pakualaman, RM Soewardi Soerjaningrat tidak terbuai dengan segala kemudahan yang didapatkan pada waktu itu, Beliau merasa prihatin dengan nasib rakyat yang tidak bisa mengeyam pendidikan sampai tingkat tinggi seperti yang beliau dapatkan. Pada perkembangannya beliau melepas gelar keningratannya dan menamani dirinya dengan sebutan Ki Hadjar Dewantoro. Bersama Dr. Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo beliau mengambil langkah stategis dengan jalan mendirikan Tiga Serangkai sebagai media melawan Hindia-Belanda di bidang pendidikan dan politik.

Pengalaman berjuang dan berorganisasi tidak membuat Ki Hadjar Dewantoro mudah menyerah terhadap perlawanan dan tekanan dari Pihak Belanda yang terus  berusaha mematikan sepak terjang beliau. Dengan keteguhan dan keberanian hati, Ki Hadjar Dewantoro membentuk organisasi pendidikan bernama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa, salah satu karya besarnya yang mewujud nyata dan masih eksis hingga kini telah melebarkan sayapnya hingga di beberapa kota di Jawa, Sumatra, dan Bali. Pendirian lembaga pendidikan Tamansiswa bertujuan melepaskan orang-orang pribumi dari belenggu kebodohan. Apabila kondisi suatu bangsa bodoh, maka bangsa lain dengan sangat mudah menindasnya, seperti praktik kolonialisasi oleh Hindia-Belanda di nusantara yang terjadi selama 350 tahun. Untuk mengenang jasa beliau dan memberikan semangat kepada kita semua, setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional di setiap tahunnya dimana tanggal tersebut diambil dari tanggal kelahirannya.

Mengunjungi Museum Kirti Griya Dewantoro kita akan melihat sebuah biografi beliau melalui benda-benda peninggalan beliau dan foto-foto yang dipajang melalui tatacara tertentu di ruang-ruang ekshibisi museum. Wisatawan yang mengunjungi museum ini akan terkagum-kagum dengan koleksi ribuan buku milik Ki Hadjar Dewantara yang tersusun rapi di rak-rak yang terbuat dari kayu jati. Museum ini juga menampilkan beberapa karyanya yang fenomenal. Misalnya, tulisannya yang berjudul Ais Ik eens Nederlander Was atau Seandainya Saya Seorang Belanda dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een atau dalam bahasa Indonesia berjudul Satu untuk semua, tetapi semua untuk satu jua? Selain itu, satu karyanya yang menumental adalah Sari Swara, yakni buku berisi tangga nada Jawa dalam musik gamelan yang telah dikonversi menjadi bentuk partitur Barat.

Jika membandingkan dengan museum di Barat barangkali wisatawan tidak akan terlalu terkesan dengan model rancang-bangun museum yang notabene adalah rumah Ki Hadjar Dewantara sendiri, namun wisatawan akan mengerti banyak bagaimana sulitnya perjuangan beliau pada ranah politik dan jurnalistik melalui lembaran-lembaran buah pemikirannya di awal abad ke-20. Museum ini menyediakan perpustakaan yang memadai jika wisatawan tertarik mendalami pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

Benteng Vredeburg

Bangunan yang terletak tepat di seberang Istana Kepresidenan Yogyakarta, merupakan salah satu bangunan yang menjadi wisata arsitektur di Kawasan Nol Kilometer atau Jalan A. Yani, seruas Jalan Malioboro. Bangunan yang dulu dikenal dengan nama Rusternburg (peristirahatan) dibangun pada tahun 1760. Kemegahan yang dirasakan saat ini dari Benteng Vredeburg pertama kalinya diusulkan pihak Belanda melalui Gubernur W.H. Van Ossenberch dengan alasan menjaga stabilitas keamanan pemerintahan Sultan HB I. Pihak Belanda menunggu waktu 5 tahun untuk mendapatkan restu dari Sultan HB I untuk menyempurnakan Benteng Rusternburg tersebut. Pembuatan benteng ini diarsiteki oleh Frans Haak. Kemudian bangunan benteng yang baru tersebut dinamakan Benteng Vredeburg yang berarti perdamaian.

Benteng Vredeburg ini memiliki denah berbentuk persegi dan menghadap barat. Sebelum memasuki pintu gerbang utama terdapat sebuah jembatan sebagai jalan penghubung utama arus keluar masuk Benteng Vredeburg. Ciri khas pintu gerbang ini bergaya arsitektur klasik Eropa (Yunani-romawi). Hal ini dapat dilihat melalui bagian tympanium yang disangga empat pilar yang bergaya doric.Sejarah kepemilikan Benteng Vredeburg adalah milik Kasultanan Yogyakarta, tetapi atas kepentingan Belanda maka benteng ini berpindah tangan pada Pemerintahan Belanda (VOC) dibawah pengawasan Nicolaas Harting, Gubernur Direktur Pantai Utara Jawa. Pada saat masih berfungsi sebagai benteng, bangunan ini dikelilingi oleh parit yang berfungsi sebagai pertahanan awal dari serangan musuh. Namun sekarang parit tersebut hanya tersisa di bagian depan gerbang utama dan hanya berfungsi sebagai drainase saja.

Sampai saat ini masih kita jumpai bastion yang berada di keempat sudut benteng. Keempat bastion itu diberi nama Jayawisesa (barat laut), Jayapurusa (timur laut), Jayaprokosaningprang (barat daya), dan Jayaprayitna (tenggara).Pada bagian dalam benteng terdapat bangunan yang disebut gedung Pengapit Utara dan Selatan. Bangunan ini pada mulanya diperkirakan digunakan sebagai kantor administrasi. Berdasarkan hasil penelitian bentuk asli, bangunan yang ada merupakan bentuk asli dengan ornamen gaya Yunani masa Renaisance. Hal ini menunjukkan usianya yang relative lebih tua dan lebih dekoratif dibandingkan dengan bangunan yang lain. Dari masa ke masa benteng ini mengalami perubahan fungsi dan bentuk sesuai keadaan politik saat itu. Seperti yang dijumpai pada masa sekarang, benteng ini telah berubah fungsi menjadi museum.

Bank Indonesia Yogyakarta

Kawasan 0 kilometer bagaikan surga bagi para pecinta wisata arsitektur dan latar belakang sejarah yang menemaninya. Berjalan ke arah timur dari Gedung Istana Kepresidenan Yogykarta kita akan menemukan bangunan dengan arstitektur bergaya Belanda dengan tertulis Bank Indonesia. Sejarah bangunan Bank Indonesia Yogyakarta sedari awal difungsikan sebagai Kantor Cabang (KC) De Javasche Bank (DJB) ”Djokdjakarta” dibuka pada 1 April 1879 sebagai KC ke-8. Alasan didirikanya KC DJB untuk mengakomodasi usulan Firma Dorrepaal and Co Semarang. Presiden De Javasche Bank ke-7, Mr N P Van den Berg dan jajaran direksi menyetujui usulan itu mengingat volume perdagangan di Yogyakarta yang semakin besar. 
Melihat nilai perputaran uang dari Yogyakarta melalui KC DJB Soerakarta pada waktu itu mencapai angka 2 – 3,5 juta gulden. Sebagai kota penghasil gula, nilai produksi yang dicapai sekitar 2.580 ton/tahun setara 300.000 pikul per tahun. Cabang DJB Yogyakarta didirikan pada 1879 di atas tanah seluas 300 meter persegi. 
Tanah tempat DJB berdiri berstatus eigendom yang berarti merupakan tanah milik DJB sendiri dan bukan lagi milik Sultan Yogyakarta.

Gedung Bank Indonesia dirancang oleh arsitek Hulswitt dan Cuypers dengan menampilkan aura kemegahan arsitektural bergaya eropa. Bangunan dengan tiga lantai dengan fungsi yang berbeda di setiap lantainya. Lantai paling bawah difungsikan sebagai ruang penyimpanan bisa dilihat dari ruang khazanah yang berfungsi menyimpan uang. Ruang utama dan kasir terdapat di lantai satu, sedangkan lantai dua sebagai tempat tinggal bagi direksi dan keluarganya.
Seperti bangunan bersejarah lainnya, fungsi gedung bank ini naik turun dari awal berdiri sampai dinasionalisasikan Pemerintah Republik Indonesia tahun 1953. Pada masa penjajahan Jepang tahun 1942 kegiatan operasional bank terhenti dan Nanpo Kaihatsu Ginko difungsikan sebagai bank sirkulasi  di Pulau Jawa. Setelah melalui masa buka tutup akibat agresi militer Belanda, KC DJB ini beroperasi kembali pada 22 Maret 1950 hingga dinasionalisasi pada 1953. Sampai sekarang masih asli bangunan Belanda. (http://info1jogja.blogspot.com)

Kraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.

Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.

Bangunan Kraton Yogyakarta sedikitnya terdiri tujuh bangsal. Masing-masing bangsal dibatasi dengan regol atau pintu masuk. Keenam regol adalah Regol Brojonolo, Sri Manganti, Danapratopo, Kemagangan, Gadungmlati, dan Kemandungan. Kraton diapit dua alun-alun yaitu Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan. Masing-masing alun-alun berukurang kurang lebih 100×100 meter. Sedangkan secara keseluruhan Kraton Yogyakarta berdiri di atas tanah 1,5 km persegi. Bangunan inti kraton dibentengi dengan tembok ganda setinggi 3,5 meter berbentuk bujur sangkar (1.000 x 1.000 meter). Sehingga untuk memasukinya harus melewati pintu gerbang yang disebut plengkung. Ada lima pintu gerbang yaitu Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah Timur Laut kraton. Plengkung Jogosuro atau Plengkung Ngasem di sebelah Barat Daya. Plengkung Joyoboyo atau Plengkung Tamansari di sebelah Barat. Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading di sebelah Selatan. Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah Timur. Dalam benteng, khususnya yang berada di sebelah selatan dilengkapi jalan kecil yang berfungsi untuk mobilisasi prajurit dan persenjataan. Keempat sudut benteng dibuat bastion yang dilengkapi dengan lubang kecil yang berfungsi untuk mengintai musuh.

Penjaga benteng diserahkan pada prajurit kraton di antaranya, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Mantrijero, dan Prajurit Bugis. Prajurit Jogokaryo mempunyai bendera Papasan dan tinggal di Kampung Jogokaryan. Prajurit Mantrijero dilengkapi dengan Bendera Kesatuan Purnomosidi dan tinggal di Kampung Mantrijeron. Prajurit Bugis yang berbendera Kesatuan Wulandari tinggal di Kampung Bugisan.

Masa pemerintahan Kraton Yogyakarta dimulai pada periode
Sri Sultan Hamengku Buwono I (GRM Sujono) memerintah tahun 1755-1792, Sri Sultan Hamengku Buwono II (GRM Sundoro) memerintah tahun 1792-1812, Sri Sultan Hamengku Buwono III (GRM Surojo) memimpin tahun 1812-1814, Sri Sultan Hamengku Buwono IV (GRM Ibnu Djarot) memerintah tahun 1814-1823, Sri Sultan Hamengku Buwono V (GRM Gathot Menol) memerintah tahun 1823-1855, Sri Sultan Hamengku Buwono VI (GRM Mustojo) memerintah tahun 1855-1877, Sri Sultan Hamengku Buwono VII (GRM Murtedjo) memerintah tahun 1877-1921, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (GRM Sudjadi) memerintah tahun 1921-1939, Sri Sultan Hamengku Buwono IX (GRM Dorojatun) memimpin tahun 1940-1988 dan Sri Sultan Hamengku Buwono X (GRM Hardjuno Darpito) memimpin tahun 1989 – sekarang.

Pada jaman modern sekarang ini keberadaan Kraton Yogyakarta masih memberikan kontribusi nyata kepada Republik Indonesia. Pada masa awal proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sri Sultan HB IX menawarkan diri memindahkan ibukota Jakarta ke Yogyakarta. Dengan mengambil resiko besar Sri Sultan HB IX menjadikan Yogyakarta beserta masyarakatnya berhadapan langsung dengan Militer Belanda yang ingin menjajah kembali. Bersama rakyat Yogyakarta Ngarso Dalem IX berjuang mempertahankan eksistensi Indonesia di percaturan politik dunia. Serangan 6 Jam di Jogja menjadi langkah jenius beliau memukul mundur pasukan militer Belanda dari tanah Yogyakarta. Keberhasilan serangan ini ditandai penyerahan kedaulatan menyeluruh bagi wilayah Republik Indonesia. Sebagai penerus perjuangan ayahandanya, Sri Sultan HB X menunjukkan jiwa kepemimpinan dalam era reformasi yang ditandai dengan berbagai kerusuhan di kota-kota besar di Indonesia. Dari kota Yogyakarta inilah Beliau bersama-sama masyarakat Yogyakarta melalui acara pisowanan ageng  mampu memberikan keteladan dengan demo besar-besaran tidak terjadi kerusuhan sama sekali. (info1jogja.blogspot.com)

Malioboro punya Jogja

Jalan Malioboro adalah saksi sejarah perkembangan Kota Yogyakarta dengan melewati jutaan detik waktu yang terus berputar hingga sekarang ini. Membentang panjang di atas garis imajiner Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi. Malioboro adalah detak jatung keramaian kota Yogyakarta yang terus berdegup kencang mengikuti perkembangan jaman. Sejarah penamaan Malioboro terdapat dua versi yang cukup melegenda, pertama diambil dari nama seorang bangsawan Inggris yaitu Marlborough, seorang residen Kerajaan Inggris di kota Yogjakarta dari tahun 1811 M hingga 1816 M. Versi kedua dalam bahasa sansekerta Malioboro berarti “karangan bunga” dikarenakan tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Lebih dari 250 tahun yang lalu Malioboro telah menjelma menjadi sarana kegiatan ekonomi melalui sebuah pasar tradisional pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I. Dari tahun 1758 – sekarang Malioboro masih terus bertahan dengan detak jantung sebagai kawasan perdagangan dan menjadi salah satu daerah yang mewakili wajah kota Yogyakarta.

Sejak awal degup jantung Malioboro berdetak telah menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian perkotaan. Setiap bagian dari jalan Malioboro ini menjadi saksi dari sebuah jalanan biasa hingga menjadi salah satu titik terpenting dalan sejarah kota Yogyakarta dan Indonesia. Bangunan Istana Kepresidenan Yogyakarta yang dibangun tahun 1823 menjadi titik penting sejarah perkembangan kota Yogyakarta  yang merupakan soko guru Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari bangunan ini berbagai perisitiwa penting sejarah Indonesia dimulai dari sini. Pada tanggal 6 Januari 1946, Yogyakarta resmi menjadi ibukota baru Republik Indonesia yang masih muda. Istana Kepresidenan Yogyakarta sebagai kediaman Presiden Soekarno beserta keluarganya. Pelantikan Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar TNI (pada tanggal 3 Juni 1947), diikuti pelantikan sebagai Pucuk Pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia (pada tanggal 3 Juli 1947), serta lima Kabinet Republik yang masih muda itu pun dibentuk dan dilantik di Istana ini pula. Benteng Vredeburg yang berhadapan dengan Gedung Agung. Bangunan yang dulu dikenal dengan nama Rusternburg (peristirahatan) dibangun pada tahun 1760. Kemegahan yang dirasakan saat ini dari Benteng Vredeburg pertama kalinya diusulkan pihak Belanda melalui Gubernur W.H. Van Ossenberch dengan alasan menjaga stabilitas keamanan pemerintahan Sultan HB I. Pihak Belanda menunggu waktu 5 tahun untuk mendapatkan restu dari Sultan HB I untuk menyempurnakan Benteng Rusternburg tersebut. Pembuatan benteng ini diarsiteki oleh Frans Haak. Kemudian bangunan benteng yang baru tersebut dinamakan Benteng Vredeburg yang berarti perdamaian.

Sepanjang jalan Malioboro adalah penutur cerita bagi setiap orang yang berkunjung di kawasan ini, menikmati pengalaman wisata belanja sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat lain. Pengalaman lain dari wisata belanja ini ketika terjadi tawar menawar harga, dengan pertemuan budaya yang berbeda akan terjadi komunikasi yang unik dengan logat bahasa yang berbeda. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya. Tak lupa mampir ke Pasar Beringharjo, di tempat ini kita banyak dijumpai beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Di pasar ini kita bisa menjumpai produk dari kota tetangga seperti batik Solo dan Pekalongan. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang-barang unik dengan harga yang lebih murah. Berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan. Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi para wisatawan.

Malioboro terus bercerita dengan kisahnya, dari pagi sampai menjelang tengah malam terus berdegup mengiringi aktifitas yang silih berganti. Tengah malam sepanjang jalan Malioboro mengalun lebih pelan dan tenang. Warung lesehan merubah suasana dengan deru musisi jalanan dengan lagu-lagu nostalgia. Berbagai jenis menu makanan ditawarkan para pedagang kepada pengunjung yang menikmati suasana malam kawasan Malioboro.  Perjalanan terus berlanjut sampai  dikawasan nol kilometer kota Yogyakarta, yang telah mengukir sejarah di setiap ingatan orang-orang yang pernah berkunjung ke kota Gudeg ini. Bangunan-bangunan bersejarah menjadi penghuni tetap kawasan nol kilometer yang menjamu ramah bagi pengunjung yang memiliki minat di bidang arsitektur dan fotografi.

Waduk Sermo

Letak Waduk Sermo boleh dibilang cukup strategis, karena berada diantara dua bukit dan disekelilingnya masih banyak pepohonan dan adanya cagar alam atau hutan wisata yang membuatnya nampak hijau dan sejuk. Di sana terdapat jalan yang melingkari sekeliling waduk sehingga memudahkan pengunjung menikmati Waduk Sermo dari sudut pandang manapun dengan leluasa. Di sepanjang jalan melingkar itu terdapat tempat – tempat persinggahan berupa rumah jamur (berbentuk seperti jamur) dan juga rumah panggung. Terdapat pula warung makan, bengkel dan juga toilet umum. Disamping itu juga menyediakan wisma atau vila apabila kita ingin menikmati keindahan waduk pada malam hari. Bila ingin mengelilingi Waduk Sermo lewat air, disana juga disediakan penyewaan perahu atau sering pula masyarakat menyebutnya “gethek”. Perahu motor juga ada. Bila ingin memancing, kita tidak perlu membayar. Cukup membeli atau membawa sendiri peralatan untuk memancing. Meski pengunjung bebas memancing di Waduk Sermo, namun ada kawasan-kawasan tertentu yang dilarang karena berbahaya.

Waduk yang diresmikan oleh Presiden Soeharto 20 November 1996 silam dibuat dengan membendung Kali Ngrancah, dengan biaya pembangunan mencapai Rp 22 miliar dan diselesaikan dalam waktu dua tahun delapan bulan. Untuk pembangunan waduk ini, Pemda Kulon Progo melakukan transmigrasi massal alias “bedol desa”. Sebanyak 100 KK ditransmigrasikan ke Tak Toi Bengkulu dan 7 KK ditransmigrasikan ke Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Kelapa Sawit Riau. Tujuan pembangunan waduk ini adalah untuk suplesi sistem irigasi daerah Kalibawang yang memiliki cakupan areal seluas 7.152 Ha. Sistem irigasi tersebut merupakan interkoneksi dari beberapa daerah irigasi.

Waduk Sermo ini terdiri dari bendungan utama yang merupakan tipe urugan batu berzona dengan inti kedap air. Puncak bendungan memiliki elevasi +141,60meterdengan panjang 190.00 meter, lebar 8,00 meter, tinggi max 58,60 Meter dan volume urugan 568,000 meter. Coffer Dam dengan tipe urugan batu dan selimut kedap air yang memiliki elevasi mercu+105,00 meter. Bangunan pelimpah dengan tipe "ogee" tanpa pintu yang memiliki lebar pelimpah 26 meter, elevasi mercu 136,60 meter, peredam energi bak lontar dan lantai peredam energi. Bangunan terowongan dengan bentuk tapal kuda dengan diameter 4,2 meter yang memiliki kapasitas 179,50 meter kubik per detik, elevasi inlet 89,00 meter dan elevasi outlet 84,00 meter. Selama ini Waduk Sermo dimanfaatkan sebagai sumber air bersih oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan untuk air irigasi yang mengairi sawah di daerah Wates dan sekitarnya. Terkadang lokasi Waduk digunakan untuk lomba dayung seperti yang terjadi belakangan ini dan untuk pelatihan bagi Akademi Angkatan Udara (AAU), juga sering dijadikan obyek diskusi akademika tentang evaluasi geologi teknik dan kerentanan gerakan tanah di sekitar waduk tersebut (terutama pada sandaran dinding bendungan sebelah barat/kanan).

Pemandangan dan suasana Waduk Sermo ini cukup eksotik dan menawarkan keindahan konstruksi bendungan. Semilir angin pun bisa membuat Anda lebih santai sambil menikmati panorama waduk ini. Selain itu, perahu wisata yang ada di waduk ini siap membawa Anda berkeliling menikmati keindahan bendungan yang menawan. Gardu pandang juga dapat Anda gunakan untuk bersantai ria sambil melihat keindahan waduk dari ketinggian. Menikmati gardu ini tidak dikenakan biaya dan dijamin Anda dapat merasakan kesejukan dan kesegaran angin yang bertiup sepoy-sepoy. Di waduk ini,keamanan dan ketertiban menjadi kewajiban antara pengunjung maupun petugas keamanan yang harus dijaga bersama. Untuk menjaga keamanan di area waduk, pos keselamatan pun disiapkan dengan menerjunkan tujuh orang anggota SAR setiap harinya yang siap menolong pengunjung jika terjadi sesuatu di kawasan bendungan ini.

Pantai Kukup

Pantai Kukup, terletak di Kabupaten Gunung Kidul. Dapat ditempuh dari Jogja kurang lebih 1,5 sd 2 jam. Jalan akses menuju pantai kukup relatif bagus dan terawat. Dikenal sebagai Akuarium Alam, Karena banyaknya ikan hias di Pantai ini, dan airnya yang jernih. Merupakan obyek wisasta alternatif bila kita bosan dengan suasana di Parangtritis. Kalau Bali memiliki Tanah Lot, maka Jogja memiliki Pantai Kukup.

Pantai kukup merupakan pantai yang indah, terdiri dari karang - karang dan pasir putih. Di bagian timur, ada sebuah batu karang besar menyerupai pulau kecil yang di hubungkan dengan jembatan. Anda bisa menikmati pemandangan dari gardu pandang yang ada di batu karang tersebut. 

Apabila ingin tantangan, anda bisa mencoba untuk mencari ikan hias yang ada di seputar karang di bibir pantai. Walaupun ikannya banyak, cukup sulit untuk menangkapnya. Pastikan anda mencoba berkunjung ke pantai yang ada di sebelah timur pantai baron ini. Tapi anda harus tetap berhati - hati karena ombak di Pantai Kukup cukup besar. (info1jogja.blogspot.com)

Pantai Drini

Pantai Drini terletak di Kabupaten Gunung Kidul Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari. Keistimewaan pantai ini adalah terdapat pulau karang yang tumbuh pohon Drini dan konon kayunya dapat dipakai sebagai penangkal ular berbisa. Di atas karang ini dibangun mercusuar di mana jika kita memandang dari menaranya dapat melihat pemandangan dari atas. Di pantai ini anda juga dapat melihat dengan jelas rumput-rumput laut di antara karang-karang laut dan biota laut lainnya.

Memang Drini tidak sepopuler Baron atau Kukup. Tidak juga memiliki nama besar seperti Parangtritis. Namun keindahan pantai ini tak kalah dari keempat pantai yang sudah lebih dulu menjadi tujuan wisata tersebut.

Dikisahkan Bengawan Solo dulunya bermuara di laut selatan. Tepatnya di Pantai Sadeng dan Drini yang sekarang ini terletak di Kabupaten Gunung Kidul, karena terjadinya peristiwa geologi dengan terdesaknya lempeng Australia yang mengakibatkan wilayah pantai selatan jawa menjadi terangkat. Sisa-sisa karang terangkat menjadi bukit kapur yang mengakibatkan aliran Sungai Bengawan Solo beralih ke arah utara mengalir nun jauh sampai Gresik. Situs aliran purba Bengawan Solo masih bisa dilihat di kawasan Pantai Drin.
(info1jogja.blogspot.com)

Pantai Ngrenehan

Pantai ngrenehan, terletak di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Berjarak sekitar 30km dari Wonosari atau sekitar 60km dari pusat kota Jogja.

Masih belum banyak orang yang tau keberadaan pantai ini, karena letaknya yang tersembunyi, melewati jalan kecil yang meliuk dan berombak, dan masih belum terdapat sarana transportasi yang menuju langsung ke lokasi.

Sama dengan Pantai Depok di Kabupaten Bantul,anda juga dapat menikmati sajian menu sea food di sini, karena di Pantai Ngrenehan juga terdapat Tempat Pelelangan Ikan, sehingga anda dapat langsung membeli aneka hasil laut yang masih segar. Dan untuk anda yang tidak mau repot masak sendiri, terdapat pula warung-warung makan yang menyediakan aneka makanan olahan hasil laut juga. Tak heran, karena di sekitar pantai ini terdapat kampung nelayan.

Sembari menunggu masakan matang, anda bisa menikmati keindahan pantai ini, bermain-main di pasirnya yang putih, menikmati deburan ombak yang menabrak karang hingga memancing di batu-batu karang. Dan, anda juga dapat menikmati pantai ini dari ketinggian, yaitu dari sebuah bukit yang berada di samping pantai ini.

Pantai Sundak

Sundak masuk dalam kabupaten Gunungkidul, tepatnya di Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Dusun Pule Gundes. Sundak berdempetan dengan pantai lain seperti Kukup, Krakal, Drini, dan Baron. Pantai yang satu ini memiliki keunikan dibanding pantai-pantai lain di Yogyakarta. Nama pantai ini misalnya. Sebelumnya pantai Sundak bernama Wedimbedah, yang artinya pasir terbelah. Ini karena saat musim hujan air dari daratan mengalir ke pantai dan membelah pasir pantai layaknya sungai kecil. Nama pantai kemudian diubah pada sekitar tahun 1976. Jika biasanya nama pantai diambil dari kondisi atau mitosnya, nama Sundak justru terkenal karena perkelahian dua hewan: asu (anjing) dan landak. Perkelahian ini bukan perkelahian mitos seperti yang melatari nama Surabaya, melainkan benar-benar terjadi.

Awalnya anjing milik penduduk setempat bernama Arjasangku sedang berlarian sambil mencari makan di bibir pantai. Sampai kemudian si anjing menemukan landak di gua yang terbentuk dari batu karang, tak jauh dari pantai. Terjadilah perkelahian antara kedua hewan ini, hingga akhirnya anjing menang dan memangsa landak. Arjasangku yang melihat anjingnya keluar dari gua dengan membawa potongan tubuh landak segera memeriksa ke dalam gua. Pasalnya, selain heran dengan potongan yang dibawa anjingnya, ia juga bertanya-tanya kenapa ketika keluar dari gua anjingnya basah kuyup. Tak disangka, selain menemukan potongan tubuh landak, ia juga menemukan mata air. Kabar ditemukannya mata air ini pun segera menyebar karena penduduk sekitar Sundak selama ini memang hidup dalam kekeringan. Mulai saat itu nama Wedimbedah diganti Sundak, wisatawan yang berkunjung juga semakin ramai.

Selain latar belakang namanya, kondisi alam Sundak juga menyuguhkan suasana istimewa. Tebing karang yang ada di sisi timur dan barat Sundak misalnya, bagus untuk dijadikan latar belakang foto. Hamparan pasir putih Sundak juga turut menambah keindahan pantai. Sekalipun garis pantainya tak begitu panjang, keindahan Sundak didukung dengan kebersihannya. Satu yang lebih istimewa lagi, ada karang-karang kecil yang menghampar sampai 30 meter dari bibir pantai. Karang-karang tersebut rata dan permukaannya tak kasar, malah terasa lembut di kaki. Ini karena karang-karang tersebut diselimuti tumbuhan-tumbuhan laut yang menyerupai rumput.

Jika perut anda keroncongan, anda bisa mengunjungi warung-warung makan terdekat. Hampir semua warung-warung makan di Sundak menjual menu yang sama: ikan bakar, nasi rames, dan mie ayam. Cobalah makan di warung paling selatan yang menjorok ke bibir pantai. Menunya memang sama dengan yang lain, tapi anda bisa merasakan makan sambil menikmati pemandangan pantai dan semilir angin. Retribusi masuk ke Sundak seharga Rp. 2000 per orang. Ditambah biaya parkir Rp. 2000 untuk motor dan Rp 3000 untuk mobil jika anda membawa mobil pribadi. Jika anda naik kendaraan umum, anda bisa naik bus dari terminal Giwangan. Setelah perjalanan satu jam anda akan sampai di pasar Wonosari. Turun dan carilah bus kecil ke arah Pantai Baron atau Krakal. Setelah menumpang bus kecil tersebut selama 40 menit sampai satu jam anda akan sampai di Sundak.

Selama ini, kebersihan pantai Sundak sangat dirawat oleh warga sekitar. Selain memiliki mata air, Sundak juga menghasilkan pemasukan dengan adanya kunjungan wisatawan. Wajar jika warga sekitar merawat dan membanggakan Sundak. Karena bagi penduduk sekitar yang sampai saat ini mengalami kekeringan, Sundak adalah sebuah oase.

Gunung Nglanggeran

Kawasan Ekosistem Gunung Purba Nglanggeran atau yang biasa disebut Gunung Nglanggeran ini merupakan kawasan yang litologinya disusun oleh material vulkanik tua, berbentuk gunung batu raksasa yang membentang sepanjang kurang lebih 800 meter dengan tinggi mencapai 300 meter. Gunung Nglanggeran dinyatakan sebagai gunung api purba dari hasil penelitian dan refrensi yang ada. Sekitar 60-70 juta tahun yang lalu Gunung tersebut merupakan gunung berapi aktif.

Kawasan tersebut dikelola secara mandiri oleh Karang Taruna “Bukit Putra Mandiri”, Desa Nglanggeran. Aktivitas yang dapat dilakukan yaitu jelajah alam mulai dari tracking menyusuri jalan setapak melewati pedesaan dan persawahan yang ada di kaki Gunung Nglanggeran, panjat tebing, atau mendaki hingga puncak.
Terdapat dua puncak gunung yang dapat di daki pada Gunung Nglanggeran. Gunung yang pertama memiliki ketinggian sedang. Untuk mencapai puncak gunung ini pengunjung cukup berjalan kaki melewati rute yang terjal selama 30-45 menit dengan melewati celah diantara dua bukit batu yang sempit menggunakan tangga 
kayu. Jalur ini cukup pendek dan tidak memakan waktu yang lama. 

Pada puncak kedua yaitu puncak Gunung Gede merupakan gunung tertinggi. Untuk mendaki gunung tersebut memakan waktu yang cukup lama karena medannya lebih sulit dan jarak yang lebih jauh. Akan tetapi, pemandangan yang disajikan pada puncak Gunung Gede sangat mempesona. Dari tempat tersebut dapat terlihat tenggelamnya matahari maupun munculnya bulan. Pada saat malam hari jika cuaca cerah akan terlihat cahaya bintang di langit. Selain itu, pada Gunung Nglanggeran pengunjung juga dapat melakukan rock climbing atau panjat tebing batu.

Akses menuju lokasi terdapat dua jalur yang dapat dilalui untuk menuju ke lokasi wisata tersebut. Jalur pertama dari arah Wonosari pengunjung dapat melewati Bunderan Sambipitu, kemudian menuju ke arah Dusun Bobung, setelah itu  langsung menuju ke Desa Nglanggeran. Jalur kedua dari arah Yogyakarta pengunjung dapat melewati Bukit Bintang Patuk, Radio GCD FM, kemudian menuju ke arah desa Ngoro-oro, setelah itu langsung menuju ke Desa Nglanggeran.

Kawasan Karst Kali Suci

Kawasan Karst Kalisuci merupakan salah satu bagian dari Kawasan Karts Gunungsewu yang membentang hingga tiga kabupaten, yakni Kabupaten Gunungkidul (DIY), Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah), dan Kabupaten Pacitan (Jawa Timur). International Union of Speleology mengusulkan agar Kawasan Karst  Gunungsewu termasuk Gua Kalisuci masuk ke dalam salah satu warisan alam dunia pada tahun 1993. Pada 6 Desember 2004 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan kawasan ini sebagai kawasan eko karst. 

Cavetubing merupakan aktivitas menyusuri gua dengan menggunakan alat bantu berupa perahu karet atau ban dalam. Kalisuci ini merupakan sungai yang memilliki air yang jernih dengan lebar bervariasi antara 5 sampai 10 meter. Sungai tersebut mengalir melewati gua-gua yang terdapat di Gunungkidul dan bermuara di laut selatan.

Terdapat lima gua yang terdapat dalam kegiatan cavetubing di Kalisuci yaitu Gua Suci, Gua Glatikan, Gua Gelung, Gua Gelung, Gua Buri Omah, dan Gua Brubug. Selama menelusuri gua-gua tersebut pengunjung akan menyaksikan berbagai ornamen gua yang indah beserta ekosistemnya. Juga terdapat tanaman perdu dan kelelawar yang bergelantungan pada atap gua yang akan menambah perjalanan menjadi semakin berkesan. Perlu sekitar dua jam untuk menelusuri gua tersebut dengan panjang 500 meter.

Selain untuk melakukan kegiatan cavetubing Kawasan Karst Kalisuci juga biasa digunakan sebagai kawasan wisata pendidikan. Seperti halnya Speologi atau ilmu tentang gua dan sekitarnya, Speleogenesis atau ilmu yang mempelajari tentang terbentuknya gua, dan morfologi kawasan batu kapur pada kawasan tersebut dapat dijadikan kawasan penelitian. 
 
Tiket masuk dengan paket cavetubing : Rp 65.000,00/orang, akses untuk sementara belum ada kendaraan umum yang akan mengantarkan  pengunjung untuk langsung menuju lokasi tersebut. Dengan menggunakan kendaraan pribadi pengunjung dapat mengarah ke Wonosari dengan menggunakan jalan Jogja-Wonosari. Kemudian pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Semanu.

Cave Tubing di Gua Pindul

Cavetubing merupakan aktivitas menyusuri gua dengan menggunakan alat bantu berupa perahu karet atau ban dalam. Gua pindul yang merupakan satu dari rangkaian tujuh gua yang dialiri sungai bawah tanah pada daerah Bejiharjo menjadi salah satu lokasi wisata yang dikembangkan oleh Dinas Pariwisata dan masyarakat setempat. Tentu saja cavetubing menjadi salah satu  unggulan pada gua yang terletak di Kabupaten Gunung Kidul ini.

Gua Pindul memiliki panjang sekitar 300 m, lebar 5 m, jarak permukaan air dengan atap gua 4 m, dan kedalaman air sekitar 5 m. Aliran sungai di dalam gua sangat tenang, sehingga cocok digunakan sebagai cavetubing dengan segala usia. Selain itu, pengunjung juga dapat memperoleh pengalaman sejarah Gua Pindul yang berasal dari kisah pengembaraan Joko Singlulung. 
Untuk melakukan cavetubing di Gua Pindul tidak diperlukan latihan maupun keahlian khusus karena alirannya yang tenang. Akan tetapi untuk menelusuri gua tersebut pengunjung diharapkan menaati peraturan baik hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Salah satunya yaitu pengunjung diwajibkan menggunakan jaket pelampung, ban, dan sepatu  yang telah disediakan oleh pengelola. 

Gua ini memiliki 3 zona yaitu zona terang, zona remang dan zona gelap abadi. Terdapat berbagai keindahan alam yang dapat kita temui didalamnya seperti stalaktit dan stalaknit yang menyatu sehingga tampak seakan sebuah pilar yang lebar dengan ukuran lima rentangan tangan orang dewasa. Pada tengah gua terdapat sebuah ruang yang agak besar dengan lubang diatasnya sehingga sinar matahari bisa masuk melalui lubang ini. Pada lubang tersebut juga biasa digunakan sebagai jalan masuk vertikal oleh anggota Tim SAR atau kelompok pecinta alam yang hendak melakukan latihan.
 
Jika sudah membawa peralatan sendiri pengunjung tidak dikenai biaya, paket dari pengelola : Rp 25.000,00 - Rp 30.000,00 (pemandu, peralatan, snack, dan makan). Akses bisa dengan kendaraan umum pengunjung dapat menggunakan bus jurusan Jogja-Wonosari. Sesampainya di Kota Wonosari pengunjung dapat menggunakan ojek untuk langsung menuju ke lokasi wisata. (info1jogja.blogspot.com)

Pantai Krakal

Krakal adalah pantai dengan pasir putih yang diselingi dengan karang. Krakal terbentang di ujung dari rangkaian pantai di sisi tenggara Gunungkidul, diantaranya Baron dan Kukup. Tepatnya di desa Ngestirejo, kecamatan Tanjungsari. Letaknya sekitar 38 km dari kota Jogja, dapat ditempuh antara dua sampai tiga jam. Dari Wonosari, ibukota Gunungkidul, hanya berjarak 21 km.
Pantai Krakal tercipta melalui proses alam yang panjang. Dahulu, Krakal diyakini berada di dasar laut. Namun akibat pengangkatan kerak bumi, dasar laut itu semakin naik ke permukaan dan akhirnya menjadi daratan. Dengan begitu muncullah Krakal sebagai pantai yang unik.
Panjang pantai Krakal yang sampai 40.000 meter membuat pantai ini menjadi yang terpanjang di Gunungkidul. Beberapa pendapat bahkan tanpa ragu menyebut Krakal sebagai yang terindah. Sisi barat dan timurnya dibatasi dengan tebing karang. Selain menikmati keindahannya, pengunjung juga dapat bermain-main dengan ombak Krakal. Ada satu hal yang unik di Krakal, yaitu munculnya beragam ikan hias di waku tertentu. Ketika situasi laut sedang surut, muncullah ikan hias seperti Kepe, Bustum dan Pogat yang mempunyai ukuran besar serta ikan hias Tliger yang kecil. Munculnya ikan hias biasanya bersamaan dengan munculnya lumut saat musim kemarau datang. Ikan-ikan ini juga lebih banyak bermunculan saat awal bulan dibanding akhir bulan.

Jika pengunjung mau bermalam di dekat pantai, anda bisa bermalam di hotel Herlois. Pengunjung juga dapat menikmati pantai-pantai lain yang berdekatan dengan Krakal, yaitu Baron, Kukup, dan Sundak. Untuk masuk ke objek wisata ini, dikenai biaya Rp 1.000,- untuk motor dan Rp 2.000,- untuk mobil. :D
(info1jogja.blogspot.com)

Pantai Parangtritis

Parangtritis merupakan pantai paling populer di Yogyakarta. Ada dua hal yang membuat Parangtritis ramai dibicarakan: pemandangan matahari terbenamnya yang romantis di kala senja dan mitos Nyai Rara Kidul. Banyak orang percaya Pantai Parangtritis adalah gerbang kerajaan gaib Nyai Rara Kidul yang menguasai laut selatan. Selain itu Parangtritis juga dikenal dengan ombak besar dan  bukit-bukit pasirnya, atau biasa disebut gumuk. Pada musim kemarau biasanya angin bertiup lebih kencang, dan ombaknya rata-rata  setinggi dua sampai tiga meter. Sebagai kawasan wisata, Parangtritis dikelola dengan cukup baik oleh Pemerintah Daerah
Kabupaten Bantul.  Mulai dari fasilitas penginapan sampai pasar yang menjajakan souvernir khas tersedia di Parangtritis.

Pantai ini hanya 27 km dari Kota Jogja. Untuk mencapai Parangtritis, anda dapat menggunakan mobil pribadi atau angkutan umum, yaitu bus kota. Untuk yang memilih angkutan umum, anda dapat naik dari terminal Umbulharjo. Ada dua pilihan rute: melalui Imogiri-Siluk atau Kretek. Jika anda ingin memanjakan mata selama perjalanan pilihlah rute Imogiri-Siluk. Melalui rute Imogiri-Siluk, anda akan melewati pemakaman keluarga kerajaan dan disuguhi pemandangan bukit kapur yang indah dan unik. Tapi jika anda ingin cepat sampai ke Parangtritis, pilihlah rute Kretek.

Hanya dengan biaya masuk Rp. 3.000,- ada banyak hal yang bisa dilakukan di Parangtritis. Melihat matahari terbenam adalah salah satu yang paling diminati.  Oleh sebab itu, saat terbaik pergi ke Parangtritis adalah saat menjelang senja. Remang romantis senja Parangtritis juga seringkali dimanfaatkan pasangan calon mempelai sebagai latar foto pranikah. Tersedia pula jasa bendi yang akan mengantar anda menyusuri permukaan pasir mulus Parangtritis. Kalau anda lebih suka naik kudanya langsung, anda juga bisa mendatangi jasa penyewaan 
kuda.

Permainan layang-layang juga dapat dijadikan pilihan jika ingin lebih mendapatkan suasana santai. Angin Parangtritis yang kencang dapat membantu anda menerbangkan layang-layang. Bahkan pemula yang tak pernah bermain layang-layang pun akan menerbangkan layang-layangnya dengan mudah dengan bantuan angin Parangtritis. Wajar saja jika Parangtritis sering dijadikan lokasi festival layang-layang. Untuk yang berjiwa petualang, ATV (All Terrain Vehicle) patut dicoba. Dengan ATV, anda dapat menaklukkan bukit-bukit pasir di sepanjang pantai. Biaya sewa ATV sekitar  Rp. 50.000,- sampai dengan Rp100.000,- per setengah jam.

Karena kebuasan ombaknya, pengunjung Parangtritis tidak direkomendasikan untuk berenang. Namun di pinggir pantai tersedia fasilitas pemandian umum. Diantaranya adalah pemandian Parang Wedang yang airnya konon dapat mengobati berbagai penyakit kulit. Ini karena air di pemandian tersebut mengandung belerang.
Kuatnya mitos Nyai Rara Kidul juga menciptakan eksotisme tersendiri di Parangtritis. Upacara-upacara seringkali digelar untuk menghormati Nyai Rara Kidul. Oleh Kraton Yogyakarta, Parangtritis dijadikan tempat upacara Labuhan. Hampir setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, para nelayan setempat dan pengunjung melakukan upacara ritual di Parangtritis. Acara ritual diwarnai pelarungan sesajen dan kembang warna-warni ke laut. Puncaknya terjadi pada malam 1 Suro, dan dua sampai tiga hari setelah hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.(info1jogja.blogspot.com)

Pantai Depok

Keramaian Pantai Depok dimulai sekitar 14 tahun yang lalu, beberapa nelayan dari Cilacap menemukan tempat pendaratan yang memadai di Pantai Depok. Nelayan tersebut membawa hasil yang banyak sehingga mampu menggugah warga Pantai Depok beralih profesi dari petani lahan pasir menjadi nelayan ikan. Bermodal perahu motor yang dilengkapi dengan cadik warga setempat melaut sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari tertentu seperti Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon yang masih dianggap keramat. Bulan Juni-September menjadi hari paceklik ikan.

Jarak yang tidak begitu jauh dari Pantai Parangtritis (1,5 kilometer) kawasan Pantai Depok mengalami peningkatan pengunjung, maka dibukalah warung makan sea food dengan nuansa tradisional dengan dirancang lesehan menggunakan tikar dan meja-meja kecil. Meski sederhana, warung makan tampak bersih dan nyaman.

Berbagai hidangan sea food siap menyambut kedatangan wisatawan, hidangan ikan cakalang menjadi yang populer dikarenakan harga yang terjangkau Rp. 8.000,- per kilogram. Untuk jenis kakap putih dan merah berkisar dengan harga Rp. 17.000,- per kilogram – Rp. 25.000,- per kilogram. Jenis ikan yang cukup mahal adalah bawal, seharga Rp. 27.000,- sd Rp. 60.000,-. Hidangan sea food biasanya dimasak dengan dibakar atau digoreng. Jika ingin memesannya, anda bisa menuju tempat pelelangan ikan untuk memesan ikan atau tangkapan laut yang lain. Setelah itu, anda biasanya akan diantar menuju salah satu warung makan yang ada di pantai itu oleh salah seorang warga. Tak perlu khawatir akan harga mahal, setengah kilo ikan cakalang plus minuman hanya dijual Rp 22.000,00 termasuk jasa memasak.

Keindahan kawasan Pantai Depok tidak hanya terletak pada sajian hidangan sea food saja. Di kawasan tersebut kita bisa melihat hamparan gumuk pasir yang terbentang luas sampai ke kawasan Parangkusumo dan Parangtritis. Gumuk pasir yang ada di pantai ini adalah satu-satunya di kawasan Asia Tenggara dan merupakan suatu fenomena yang jarang dijumpai di wilayah tropis. Di sini, anda bisa menikmati hamparan gumuk pasir yuang luas. Gumuk Pasir di kawasan Pantai Depok ini terbentuk melalui proses yang unik selama ribuan tahun yang lalu. Ada beberapa tipe yang terbentuk, yaitu parabolic dune, longitudinal dune, comb dune dan barchan dune. Angin laut dan bukit terjal di sebelah timur menerbangkan pasir hasil aktivitas Merapi yang terendap di dekat sungai menuju daratan, membentuk bukit pasir atau gumuk.

Untuk menikmati hidangan laut sekaligus pemandangan gumuk pasir ini, anda bisa melalui rute yang sama dengan Parangtritis dari Yogyakarta. Setelah sampai di dekat pos retribusi Parangtritis, anda bisa berbelok ke kanan menuju Pantai Depok. Biaya masuk menuju Pantai Depok hanya Rp 4.000,00 untuk dua orang dan satu motor. Bila membawa mobil, anda dikenai biaya Rp 5.000,00 plus biaya perorangan. (info1jogja.blogspot.com)

Kaliurang

Kaliurang adalah objek wisata andalan Kabupaten Sleman yang berada di lereng selatan Merapi. Kawasan wisata ini terletak di selatan Provinsi DIY, 28 km dari Kota Yogyakarta. Tepatnya Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman. Jika dibandingkan dengan kawasan wisata yang serupa di luar DIY, Kaliurang mirip dengan kawasan Puncak di Bogor.
Kawasan Kaliurang sudah dipandang sebagai tujuan wisata sejak zaman penjajahan Belanda. Pada abad 19, para ahli geologi Belanda yang tinggal di Yogyakarta bermaksud mencari tempat peristirahatan bagi keluarga mereka. Ketika mereka sampai di Kaliurang, mereka terpesona dengan keindahan dan kesejukannya. Para geolog Belanda itu pun membangun bungalow-bungalow di Kaliurang.
Setelah Belanda meninggalkan Indonesia, Kaliurang tetap dijadikan tempat peristirahatan. Banyak perusahaan dan instansi mendirikan wisma di Kaliurang. Pada awalnya, wisma-wisma tersebut hanya digunakan untuk kepentingan perusahaan atau instansi. Namun kemudian disewakan untuk masyarakat luas. Setelah semakin ramai dan berkembang, Kaliurang pun akhirnya dilengkapi berbagai fasilitas wisata.
Berada 900 meter diatas permukaan laut membuat udara di Kaliurang sejuk dan segar. Suhunya berkisar 20-25 derajat celcius. Dari Kaliurang, puncak Merapi nampak jelas walau terkadang diselimuti kabut. Di Kaliurang, pengunjung dapat bermain di Taman Rekreasi Kaliurang. Terlebih bagi yang membawa anak-anak, Taman Rekreasi Kaliurang bisa jadi tempat favorit bagi anak-anak. Sekitar 300 meter ke arah timur laut dari taman rekreasi terdapat Taman Wisata Plawangan Turgo. Di kawasan taman wisata ini terdapat kolam renang Tlogo Putri yang airnya berasal dari mata air di lereng Bukit Plawangan. Di samping keindahan alam, Kaliurang juga menyimpan kekayaan sejarah. Diantaranya adalah Wisma Kaliurang dan Pesangrahan Dalem Ngeksigondo milik Kraton yang pernah dipakai sebagai tempat berlangsungnya Komisi Tiga Negara. Atau Museum Ullen Sentalu yang sebagian bangunannya berada di bawah tanah.
Selain taman rekreasi, berbagai faslitas lain tersedia di Kaliurang. Diantaranya kereta kelinci, gardu pandang, pos pengamatan Merapi, area perkemahan, dan rumah ibadah. Jika anda ingin bermalam, tersedia pula berbagai penginapan.
Biaya masuk ke Kaliurang Rp 2000 untuk dewasa dan Rp 1000 untuk anak-anak. Pada hari libur Rp 3000 dewasa dan Rp 1500 untuk anak. Untuk kendaraan juga dikenakan biaya masuk, yaitu Rp. 500 untuk motor dan Rp. 2000 untuk mobil Rp. 3000 untuk bus atau truk.

Kawasan Kotabaru

Kamis, 15 Maret 2012

suasana malam
Melintasi Jalan Suroto menuju Stadion Kridosono merasakan kesan yang berbeda dibandingkan dengan kawasan yang lain di kota Yogyakarta. Ruas jalan yang cukup besar dengan taman bunga sebagai pembagi ruas jalan, pohon-pohon besar, dan tanaman buah yang banyak terdapat di ruas jalan ini menandakan Kotabaru dirancang dengan konsep Garden City. Pembangunan kawasan Kotabaru (jaman dahulu disebut Nieuwe Wijk) tidak bisa dilepaskan adanya perubahan sosial yang terjadi di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya diawal tahun 1920-an. Kemajuan di bidang industri perkebunan tebu serta meningkatnya ketertarikan mengembangkan pendidikan dan kesehatan menyebabkan jumlah orang Belanda yang menetap di kota Yogyakarta semakin meningkat. Kotabaru menjadi kawasan pemukiman alternatif selain wilayah Loji Kecil dengan fasilitas yang lengkap dari fasilitas olahraga, keagamaan sampai pendidikan.

Melintasi kawasan Kotabaru, kita tidak akan menemukan sebuah gang sempit yang biasa kita jumpai di tempat-tempat lain di kota Yogyakarta, perancangan awal kawasan ini berkonsep pola radial seperti kota-kota di Belanda pada umumnya, berbeda dengan wilayah yang lain di kota Yogyakarta masih menganut pola arah mata angin. Sebagai kota mandiri, setiap bangunan yang berada di kawasan Kotabaru memiliki aksesibilitas yang mudah untuk dijangkau, hal ini bisa dilihat dari sistem pembuatan jalan yang terstruktur menghubungkan satu dengan yang lainnya.
Berjalan menikmati setiap sudut kawasan Kotabaru, kita akan melihat bangunan kuno yang bertebaran bak cendawan di musim hujan. Gereja Santo Antonius Kotabaru adalah bangunan yang memiliki pola rancang bangun khas Eropa. Menara tinggi di bagian depan gerejea, tiang-tiang besar dari semen cor sebanyak 16 buah serta plafon berbentuk sungkup. Gereja Santo Antonius Kotabaru berdiri pada tahun 1926 merupakan metamorfosis dari Gereja Santo Antonius Van Padua. Perubahan nama ini tidak terlepas dari berkembangnya jamaah di rumah Mr Pequin (depan Masjid Syuhada) yang sudah melebihi kapasitas. Tidak jauh dari Gereja Santo Antonius, terdapat bangunan yang memiliki nilai sejarah yang tidak kalah tinggi adalah kantor Asuransi Jiwasraya. Pada jaman kolonialisme Belanda bangunan ini difungsikan sebagai rumah salah satu pegawai Asuransi Nill Maatschappij, dan pada periode pendudukan Jepang difungsikan sebagai tempat tinggal Butaico Mayor Otsuka, salah satu perwira tinggi angkatan bersenjata Jepang. Setelah kekalahan Jepang dalam melawan sekutu, bangunan ini menjadi tempat perundingan pelucutan senjata pada tanggal 6 Oktober 1945 yang dilakukan oleh Muhammad Saleh Bardosono dengan Butaico Mayor Otsuka.

Dinding-dinding bangunan masa lalu yang bertebaran di kawasan Kotabaru juga memiliki cerita sendiri, diantaranya SMU BOPKRI I yang digunakan sebagai gedung Christelijke MULO dan Akademi Militer, Gedung SMP 5 yang dahulu dipakai Normalschool, Gedung SMAN 3 sebagai gedung AMS, Gedung Kolese Santo Ignatius yang dulu digunakan sebagai kantor Kementrian Pertahanan dan Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta yang berlokasi di Jalan Suroto menjadi tempat berakhirnya gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman. Tidak ketinggalan pula sebuah bangunan besar dengan rancang bangun art deco yang berkembang pesat pada tahun 1920-1930an yaitu Gedung Bimo. Konsep art deco adalah aliran dalam dunia rancang bangun yang tetap mengutamakan unsur tradisional setempat dengan tetap terbuka pada hal baru dan disertai semangat untuk berbeda dari bangunan umum yang sudah ada.

Salah satu tempat yang menjadi salah satu perwajahan Kawasan Kotabaru  adalah Jembatan Kewek. Jembatan penyeberangan yang melintasi Kali Code menghubungkan wilayah Stasiun Tugu dengan Kotabaru. Secara resmi jembatan ini dinamakan Kerkweg, karena banyak orang jawa kesulitan melafalkannya, namanya pun berubah menjadi Kreteg Kewek. Perkembangan jaman yang terus berubah tidak banyak merubah Kawasan Kotabaru yang selalu memberikan kenangan masa lalu dengan sistem tata kota yang bervisi kedepan dan fasilitas ruang publik yang tetap terjaga sampai sekarang.

Masjid Kotagede

Berjalan mendekat ke arah kompleks masjid, akan ditemui sebuah gapura yang berbentuk paduraksa.  Persis di bagian depan gapura, akan ditemui sebuah tembok berbentuk huruf L. Bentuk paduraksa dan tembok L itu adalah wujud  toleransi Sultan Agung pada warga yang ikut membangun masjid yang masih memeluk agama Hindu dan Budha. Sebelum memasuki kompleks masjid, akan ditemui sebuah pohon beringin yang konon usianya sudah ratusan tahun. Pohon itu tumbuh di lokasi yang kini dimanfaatkan untuk tempat parkir. Karena usianya yang tua, penduduk setempat menamainya "Wringin Sepuh" dan menganggapnya mendatangkan berkah. Keinginan seseorang, menurut cerita, akan terpenuhi bila mau bertapa di bawah pohon tersebut hingga mendapatkan dua lembar daun jatuh, satu tertelungkup dan satu lagi terentang.

Berjalan mendekat ke arah kompleks masjid, akan ditemui sebuah gapura yang berbentuk paduraksa. Persis di bagian depan gapura, akan ditemui sebuah tembok berbentuk huruf L. Pada tembok itu terpahat beberapa gambar yang merupakan lambang kerajaan. Bentuk paduraksa dan tembok L itu adalah wujud toleransi Sultan Agung pada warga yang ikut membangun masjid yang masih memeluk agama Hindu dan Budha. Memasuki halaman masjid, akan ditemui sebuah prasasti yang berwarna hijau. Prasasti bertinggi 3 meter itu merupakan pertanda bahwa Paku Buwono pernah merenovasi masjid ini. Bagian dasar prasasti berbentuk bujur sangkar dan di bagian puncaknya terdapat mahkota lambang Kasunanan surakarta.

Adanya prasasti itu membuktikan bahwa masjid Kotagede mengalami dua tahap pembangunan. Tahap pertama yang dibangun pada masa Sultan Agung hanya merupakan bangunan inti masjid yang berukuran kecil. Karena kecilnya, masjid itu dulunya disebut Langgar. Bangunan kedua dibangun oleh raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X. Perbedaan bagian masjid yang dibangun oleh Sultan Agung dan Paku Buwono X ada pada tiangnya. Bagian yang dibangun Sultan agung tiangnya berbahan kayu sedangkan yang dibangun Paku Buwono tiangnya berbahan besi.

Bangunan inti masjid merupakan bangunan Jawa berbentuk limasan. Cirinya dapat dilihat pada atap yang berbentuk limas dan ruangan yang terbagi dua, yaitu inti dan serambi. Sebuah parit yang mengelilingi masjid akan dijumpai sebelum memasuki bangunan inti masjid. Parit itu di masa lalu digunakan sebagai saluran drainase setelah air digunakan wudlu di sebelah utara masjid. Kini, warga setempat memperbaiki parit dengan memasang porselen di bagian dasar parit dan menggunakannya sebagai tempat memelihara ikan. Untuk memudahkan warga yang ingin beribadah, dibuat sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu-kayu yang disusun berderet.

Pada bagian luar inti masjid terdapat bedug tua yang bersebelahan dengan kentongan. Bedug yang usianya tak kalah tua dengan masjidnya itu merupakan hadiah dari seseorang bernama Nyai Pringgit yang berasal dari desa Dondong, wilayah di Kabupaten Kulon Progo. Atas jasanya memberikan bedug itu, keturunan Nyai Pringgit diberi hak untuk menempati wilayah sekitar masjid yang kemudian dinamai Dondongan. Sementara bedug pemberiannya, hingga kini masih dibunyikan sebagai penanda waktu sholat.

Sebuah mimbar untuk berkhotbah yang terbuat dari bahan kayu yang diukir indah dapat dijumpai di bagian dalam masjid, sebelah tempat imam memimpin sholat. Mimbar itu juga merupakan pemberian. Saat Sultan Agung menunaikan ibadah haji, ia mampir ke Palembang untuk menjenguk salah satu adipati di tempat itu. Sebagai penghargaannya, adipati Palembang memberikan mimbar tersebut. Mimbar itu kini jarang digunakan karena sengaja dijaga agar tidak rusak. Sebagai pengganti mimbar itu, warga setempat menggunakan mimbar kecil untuk kepentingan ibadah sehari-hari.Berjalan mengelilingi halaman masjid, akan dijumpai perbedaan pada tembok yang mengelilingi bangunan masjid. Tembok bagian kiri terdiri dari batu bata yang ukurannya lebih besar, warna yang lebih merah, serta terdapat batu seperti marmer yang di permukaannya ditulis aksara Jawa. Sementara tembok yang lain memiliki batu bata berwarna agak muda, ukuran lebih kecil, dan polos. Tembok yang ada di kiri masjid itulah yang dibangun pada masa Sultan agung, sementara tembok yang lain merupakan hasil renovasi Paku Buwono X. Tembok yang dibangun pada masa Sultan agung berperekat air aren yang dapat membatu sehingga lebih kuat.

Masjid yang usianya telah ratusan tahun itu hingga kini masih terlihat hidup. Warga setempat masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Bila datang saat waktu sholat, akan dilihat puluhan warga menunaikan ibadah. Di luar waktu sholat, banyak warga yang menggunakan masjid untuk tempat berkomunikasi, belajar Al Qur'an, dan lain-lain.

Kali Biru



Kalibiru merupakan kawasan hutan yang dikelola masyarakat sekitar dan dijadikan objek wisata alam. Hutan wisata ini berada di perbukitan Menoreh, tepatnya di Desa Hagrowilis, Kecamatan Kokap, Kulonprogo. Dari Wates, ibukota Kulonprogo, Kalibiru berjarak 10 km. Sedang dari Kota Yogyakarta, Kalibiru berjarak 40 km dan dapat ditempuh dalam waktu 60-90 menit. Pada tahun 1950-an, Kalibiru merupakan hutan lindung yang belum dijamah manusia. Namun seiring berjalannya waktu, banyak pembalakan liar terjadi di Kalibiru. Sampai pada tahun 1997 Kalibiru menjadi hutan yang tandus dan gersang. Oleh sebab itu warga sekitar kemudian berinisiatif mengelola Kalibiru untuk membuat hutan itu kembali hijau dan sejuk. Melalui Komunitas Lingkar, masyarakat sekitar mengubah Kalibiru yang tandus dan gersang menjadi hijau dan sejuk. Setelah lima tahun dikelola oleh masyarakat, jumlah dan pertumbuhan tanaman di Kalibiru meningkat pesat. Ditemukan juga beberapa mata air. Sejak 14 Februari 2008 hutan ini secara resmi dikelola masyarakat selama 35 tahun dengan adanya Izin Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan. Kini Kalibiru membalas budi masyarakat yang telah merawatnya dengan menjadi hutan wisata yang indah.
Kalibiru terbentang 450 meter diatas permukaan laut. Jika cuaca cerah, dari balik hutan Kalibiru kita dapat melempar pandangan  sampai gunung Merapi, pantai selatan, dan Waduk Sermo. Karena berada di perbukitan yang cukup tinggi, Kalibiru sejuk dan udaranya jernih tanpa polusi. Tentu hal ini menjadi nilai lebih bagi pengunjung yang berasal dari perkotaan yang sehari-hari menghirup udara kota yang kotor.
Selain bentang alamnya yang indah oleh paduan hutan yang hijau dan perbukitan, sosial budaya masyarakat sekitar Kalibiru juga menjadi daya tarik. Masyarakat sekitar dikenal ramah, santun, memiliki rasa kekeluargaan, dan senang gotong royong. Selain itu, masyarakat Kalibiru juga mempertahankan beraneka ragam seni budaya tradisional, sehingga mampu menghadirkan eksotisme yang khas bagi pengunjung.
Masyarakat yang secara bahu-membahu mengelola hutan wisata Kalibiru juga mempunyai komitmen untuk menjaga lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari infrastruktur bangunan di Kalibiru. Tak ada satu bangunan pun yang berbahan beton. Semuanya terbuat dari bahan-bahan alami seperti bambu atau kayu dan dirancang sesuai arsitektur Jawa kuno. Berbagai bangunan yang disediakan sebagai fasilitas pengunjung di Kalibiru antara lain pondok wisata, gardu pandang, joglo, sampai perpustakaan. Selain itu terdapat pula area outbond, jalur tracking, dan lintasan flying fox.

Di Kalibiru tersedia berbagai paket wisata, diantaranya wisata perdesaan, budaya, pendidikan, keluarga, terapi alam, dan lain-lain. Untuk masuk ke hutan wisata Kalibiru, pengunjung harus membayar retribusi sebesar Rp. 2000,- Dan untuk menikmati desir adrenalin di lintasan flying fox, pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000,- untuk dewasa dan Rp. 5.000,- untuk anak-anak.

Jogja Istimewa

Selasa, 13 Maret 2012

Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta merupakan daerah yang mempunyai pemerintahan sendiri atau disebut Zelfbestuurlandschappen/Daerah Swapraja, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755, sedangkan Kadipaten Pakualaman didirikan oleh Pangeran Notokusumo (saudara Sultan Hamengku Buwono II) yang bergelar Adipati Paku Alam I pada tahun 1813. Pemerintah Hindia Belanda mengakui Kasultanan dan Pakualaman sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangganya sendiri yang dinyatakan dalam kontrak politik. Kontrak politik yang terakhir Kasultanan tercantum dalam Staatsblaad 1941 Nomor 47, sedangkan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad 1941 Nomor 577. Eksistensi kedua kerajaan tersebut telah mendapat pengakuan dari dunia internasional, baik pada masa penjajahan Belanda, Inggris, maupun Jepang. Ketika Jepang meninggalkan Indonesia, kedua kerajaan tersebut telah siap menjadi sebuah negara sendiri yang merdeka, lengkap dengan sistem pemerintahannya (susunan asli), wilayah dan penduduknya.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII menyatakan kepada Presiden RI, bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman menjadi wilayah Negara RI, bergabung menjadi satu kesatuan yang dinyatakan sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah bertanggungjawab langsung kepada Presiden RI. Hal tersebut dinyatakan dalam:
  1. Piagam kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 19 Agustus 1945 dari Presiden RI.
  2. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 5 September 1945 (dibuat secara terpisah).
  3. Amanat Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 30 Oktober 1945 (dibuat dalam satu naskah).
Dalam perjalanan sejarah selanjutnya kedudukan DIY sebagai Daerah Otonom setingkat Provinsi sesuai dengan maksud pasal 18 Undang-undang Dasar 1945 (sebelum perubahan) diatur dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Undang-undang Pokok Pemerintahan Daerah. Sebagai tindak lanjutnya kemudian Daerah Istimewa Yogyakarta dibentuk dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1950 sebagaimana telah diubah dan ditambah terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1955 (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1819) yang sampai saat ini masih berlaku. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan DIY meliputi Daerah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Daerah Kadipaten Pakualaman. Pada setiap undang-undang yang mengatur Pemerintahan Daerah, dinyatakan keistimewaan DIY tetap diakui, sebagaimana dinyatakan terakhir dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004.
Dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), DIY mempunyai peranan yang penting. Terbukti pada tanggal 4 Januari 1946 sampai dengan tanggal 27 Desember 1949[7] pernah dijadikan sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia. Tanggal 4 Januari inilah yang kemudian ditetapkan menjadi hari Yogyakarta Kota Republik pada tahun 2010. Pada saat ini Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Kadipaten Pakualaman dipimpin oleh Sri Paku Alam IX, yang sekaligus menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY. Keduanya memainkan peran yang menentukan dalam memelihara nilai-nilai budaya dan adat istiadat Jawa dan merupakan pemersatu masyarakat Yogyakarta.